Dalam penerapan boiler di pabrik makanan, proporsi ketel uap sangat besar. Distilasi, ekstraksi, desinfeksi, pengeringan, penuaan, dan langkah-langkah lainnya tidak dapat dipisahkan darinya. Melalui transportasi pipa, uap suhu tinggi yang dihasilkan oleh ketel uap diangkut ke proses yang sesuai, mengingat uap bersuhu tinggi ini akan bersentuhan langsung atau tidak langsung dengan makanan. Karena itu, industri pengolahan makanan memiliki kebutuhan yang sangat tinggi terhadap ketel uap. Apakah suhunya konstan, apakah tekanannya stabil, dan apakah kualitas uapnya sangat baik merupakan faktor kunci yang menentukan kualitas akhir makanan.
Pengolahan mangga segar menjadi mangga kering yang mudah disimpan dan diangkut memerlukan berbagai proses seperti pengolahan, pengawetan, dan pengeringan. Untuk menjamin rasa dan kualitas mangga kering, tindakan seperti desinfeksi dan sterilisasi juga diperlukan. Itu semua tidak terlepas dari bantuan ketel uap. Ketel uap tidak hanya dapat digunakan sebagai sumber tenaga tetapi juga uap suhu tinggi yang disalurkan dapat langsung diangkut ke berbagai proses untuk ikut serta dalam pengolahan..
Dengan peningkatan bertahap tata kelola lingkungan negara kita, berbagai industri sedang mengalami transformasi dalam perlindungan lingkungan. Pembuangan gas buang dan air limbah selama pengolahan makanan tidak bisa diabaikan, dan pengawasan negara terhadap masalah ini menjadi lebih ketat. Mengganti produk boiler yang bersih adalah cara mendasar untuk mengatasi masalah ini. Tradisional boiler berbahan bakar batubara akan dilarang atau direformasi karena masalah seperti emisi polutan yang tidak dapat diselesaikan sepenuhnya. Boiler berbahan bakar gas berbahan bakar minyak yang bersih disukai oleh industri makanan karena karakteristik perlindungan lingkungannya yang luar biasa.